Meremehkan Orang Lain
Kita tidak boleh merendahkan orang yang tidak
lebih baik dari kita. Menilainya dengan sebelah mata. Siapa kita? Hanya orang
yang lebih dulu mendapatkan hidayah Allah karena kemurahan Nya. Hanya karena
kita lebih dulu. Padahal, orang-orang terdahulu bisa jadi tidak lebih selamat
dari yang kemudian. Siapa yang tahu akhir hidup seseorang, kamu kah? Yang
merasa lebih baik daripada pelacur? Merasa lebih baik daripada mereka yang
tidak menutup aurat, yang pacaran, yang tidak sholat. Tidak ada yang bisa
menjamin, bahkan orang alim sedunia sekalipun! Boleh jadi orang yang kita
pandang dengan sebelah mata kita, atau
bahkan tidak sudi memandang dengan kedua belah mata kita, jauh lebih baik, sangat jauh lebih baik daripada diri kita.
Jika kita merasa lebih baik, lebih alim, lebih
pintar dari mereka, maka sungguh kita tidak lebih baik dari mereka. Sungguh,
kita tidak akan selamat. Sebab tidak akan masuk syurga orang yang di dalam
hatinya terdapat kesombongan walau sebesar biji dzarrah. sedang kesombongan
adalah tidak mau menerima kebenaran dan meremehkan orang lain. Benar, kita
memang harus membenci perbuatan yang mengundang azab Allah. Benar, kita harus
tidak setuju dengan kemaksiatan. Tetapi tidak dibarengi dengan merasa diri
lebih selamat dari mereka, kan? Bersyukurlah karena Allah telah mengizinkan
kita berbuat taat kepada Nya, beruntung karena Allah berkenan memberikan
hidayah Nya kepada kita lebih dulu dan berdoa semoga Allah tidak membolak
balikkan hati kita kepada kekufuran. Kita wajib menyampaikan nasehat kepada
mereka tanpa embel-embel meremehkan. Jangan meremehkan orang lain, sedang kita
bahkan tidak pernah merasa wajib menasehati mereka, membawa mereka ke jalan
islam, mencicipi nikmatnya iman. Karena sungguh, syurga terlalu luas untuk diri
kita seorang. Karena sebaik-baik manusia adalah oarang yang mau memperbaiki
diri dan memperbaiki orang lain (anfa’uhum linnas).
Sebaik-sebaik orang yang berbuat dosa adalah
mereka yang kembali kepada Allah.